aku: ada apa bu?
ibu Mardiyati: kamu novita kan? (i hate someone call me novita. why don't you just call novi?!)
aku: iya bu
ibu Mardiyati: ini novita, ibu mau nanya? kamu tadi ada urusan apa sama ibu Ida?
aku: (bernafas lega) oh, itu tadi ada masalah tentang PMR bu. saya bukan dipanggil bu Ida, tapi dipanggil ibu yang tata usaha itu bu
ibu Mardiyati: oh, ibu itu. iya iya
aku: iya bu (senyum ga ikhlas)
ibu Mardiyati: ehm, menurut kamu novita, guru profesional itu seperti apa
aku: (tegang jantung, mimisan, pingsan, meninggal) ha? maksud ibu?
ibu Mardiyati: maksud ibu ukuran guru yang profesional itu menurut kami seperti apa?
aku: ha? ukuran tinggi badan gitu bu? (sumpah aku udah tepaok kali disini ga bisa berpikir jernih)
ibu Mardiyati: bukan, ukuran atau standar guru professional itu kayak gimana?
aku:
oh, guru profesional itu harus mengerti murid nya. soalnya kan kadang
gurunya cuma satu muridnya banyak. udah gitu harus bisa membedakan jaman
dulu sama jaman sekarang, jangan terlalu membawa jaman dulu. udah gitu
harus bisa menerima kritik, kan ada tuh guru yang ga bisa disalahin,
makanya muridnya pun takut untuk bertanya. dan kayak gitulah bu lebih
kurang hehe (ngelantur)
ibu Mardiyati: oh, ini novita, kamu tolong buat puisi tentang semangat belajar ya
aku: ha? tentang semangat belajar?
ibu Mardiyati: iya
aku: oh, itu aja bu (udah malas, pengen pulang ke kelas)
ibu Mardiyati: iya
aku: oh iya bu
ibu Mardiyati: terima kasih ya novita
aku: iya bu (pergi, mukul-mukul kepala, frustasi, teriak)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar