Jumat, 20 Januari 2012

puisi bertema semangat belajar

aku: ada apa bu?
ibu Mardiyati: kamu novita kan? (i hate someone call me novita. why don't you just call novi?!)
aku: iya bu
ibu Mardiyati: ini novita, ibu mau nanya? kamu tadi ada urusan apa sama ibu Ida?
aku: (bernafas lega) oh, itu tadi ada masalah tentang PMR bu. saya bukan dipanggil bu Ida, tapi dipanggil ibu yang tata usaha itu bu
ibu Mardiyati: oh, ibu itu. iya iya
aku: iya bu (senyum ga ikhlas)
ibu Mardiyati: ehm, menurut kamu novita, guru profesional itu seperti apa
aku: (tegang jantung, mimisan, pingsan, meninggal) ha? maksud ibu?
ibu Mardiyati: maksud ibu ukuran guru yang profesional itu menurut kami seperti apa?
aku: ha? ukuran tinggi badan gitu bu? (sumpah aku udah tepaok kali disini ga bisa berpikir jernih)
ibu Mardiyati: bukan, ukuran atau standar guru professional itu kayak gimana?
aku: oh, guru profesional itu harus mengerti murid nya. soalnya kan kadang gurunya cuma satu muridnya banyak. udah gitu harus bisa membedakan jaman dulu sama jaman sekarang, jangan terlalu membawa jaman dulu. udah gitu harus bisa menerima kritik, kan ada tuh guru yang ga bisa disalahin, makanya muridnya pun takut untuk bertanya. dan kayak gitulah bu lebih kurang hehe (ngelantur)
ibu Mardiyati: oh, ini novita, kamu tolong buat puisi tentang semangat belajar ya
aku: ha? tentang semangat belajar?
ibu Mardiyati: iya
aku: oh, itu aja bu (udah malas, pengen pulang ke kelas)
ibu Mardiyati: iya
aku: oh iya bu
ibu Mardiyati: terima kasih ya novita
aku: iya bu (pergi, mukul-mukul kepala, frustasi, teriak)

Rabu, 18 Januari 2012

Cinta Patah Hati

ada yang tak bisa kubaca dari gerak bibirmu
ada yang tak bisa kuraba dalam hangat pelukmu
tapi pandangan matamu
masih seperti yang kulihat empat tahun yang lalu

pandangan mata yang dulu pernah menjerumuskanku
dalam dimensi cinta tak berbatas ruang dan waktu
seperti menggapai-gapai dasar
yang tak juga tersentuh

dan masih kuingat betul
betapa aku tersiksa
seperti terpenjara
saat kusadari
kau takkan kumiliki